Sahabat Fanatik

Oleh @Murti.Aulia

Sahabat Fanatik

Halo teman!

Hal yang paling aku nanti-nantikan di sisa tahun ini adalah; Kumpul sama sahabat!

Ya. Kumpul bersama sahabat itu seru dan menyenangkan. Apalagi sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Sekalinya ngumpul bareng, aku bisa bertukar cerita bersama para sahabatku diselingi sedikit candaan supaya tidak jenuh. Dulu, setiap aku dan sahabat-sahabatku kumpul, pasti selalu saja ada gelak tawa dan topik seru yang muncul di saat kami berbincang. Kami selalu membuat kenangan lucu dan konyol supaya lebih sering diingat. Seperti; membuat konser abal-abal dengan tumpukan meja, membuat video amatir, hingga menyanyi semaunya. Walaupun begitu, aku merasa terhibur dengan itu semua. Aku benar-benar rindu dan aku harap kenangan ini bisa kualami lagi di sisa tahun ini bersama-sama.

Tapi akhir-akhir ini aku jarang mengobrol bersama mereka walaupun hanya chat lewat media sosial. Mereka kadang suka mengabaikan sapaanku di aplikasi chatting. Hingga akhirnya kami lost contact. Tapi beberapa bulan kemudian, kami kembali berkomunikasi.

Salah satu sahabatku, sering mengirimkan foto-foto idolanya kepadaku dan selalu bersifat fanatik, seperti; "Aku pasti bisa jadi pacar dia!" dan ia selalu bicara itu kepadaku hingga membuatku bosan.

Dengan sopan aku menegurnya, memberitahu kalau, sikap fanatik itu tidak baik. Ia marah, tak terima, lalu mendiamkan aku selama seminggu. Aku kesal karena ia tak mendengarkan nasihatku. Karena emosi yang meluap, aku lontarkan segala kekurangan idolanya supaya ia berhenti bersikap seperti itu. Aku lakukan ini karena aku peduli.

Tiba-tiba ia menghubungiku, merespon ucapanku dengan dengan sejuta caci maki yang membuatku sakit hati. Saat membaca ketikan pedasnya, hatiku perih. Kenapa dia lebih memilih idolanya daripada aku? Padahal kan aku sahabatnya?

Ia merasa tak terima idolanya dinilai kurang baik olehku. Padahal, komentarku sangat halus, tapi mungkin saja ia tersinggung. Ia terus memaki, menghujaniku ribuan kata tajam bagaikan belati.

Aku terus diam, hingga akhirnya aku mengalah. Aku meminta maaf duluan kepadanya. Tapi dia tak merespon. Aku sabar, terus menunggu walau hati ini masih terluka akibat makiannya. Tapi apa boleh buat? Aku sahabatnya, aku peduli padanya. Aku hanya mau ia jadi yang terbaik.

Setelah berhari-hari ia memaafkanku. Namun ia masih menggerutu dan bilang kalau aku yang salah dari awal. Saat itu aku menghela nafas, dia memang keras kepala.

Tapi, yang terpenting hubungan persahabatan kami tetap terjalin. Kuharap di sisa tahun ini persahabatanku dengannya akan lebih baik dari tahun yang sebelumnya. Hopefully!