Part 3: She Is A Real Wondermom

Oleh @ghinaluthfy

Part 3: She Is A Real Wondermom

Hari-hari Mama kini dirundung kesedihan mendalam, menjalani masa kehamilan yang seharusnya membahagiakan ia lalui dengan tangisan kepergian Ayah. Mama selalu berusaha tegar meski hati perih. Stress, itulah yang dikatakan Mama menggambarkan dirinya saat itu. Hingga bulan dimana kehamilan nya mendekati kelahiran, ia belum merasakan apa-apa, sudah melewati tanggal perkiraan lahir masih belum merasakan apa apa.

Menginjak 10 bulan kehamilan akhirnya mama memutuskan untuk mendatangi Bidan untuk melahirkan anaknya, Mama menjalani serangkaian tes dan yang paling menyakitkan adalah merangsang mulas agar persalinan berjalan dengan normal.. (sedikit penjelasan, mulas yang dirangsang lebih menyakitkan dan memberi rasa sakit yang berlebih dibandingkan dengan mulas yang datang secara alami, btw saya sudah merasakan mulas alami itu, dan entah bagaimana rasanya mulas yang dirangsang itu).

Entah berapa lama waktu berjalan hingga akhirnya lahirlah seorang bayi perempuan cantik, yang mana ia adalah anak kedua dari wanita super ini. Bayi yang lahir tanpa seorang Ayah, bayi yang tidak pernah mendengarkan lantunan adzan dari bibir ayahnya sendiri, bayi yang tidak akan merasakan kasih sayang Ayah kandungnya, bayi yang tak pernah bertemu dengan ayahnya sampai detik ini.

Dan bayi itu sekarang sedang menulis cerita ini, cerita tentang Ibunya yang luar biasa. Ya, inilah aku bayi yang tidak pernah menemukan sosok Ayah disisinya sampai saat ini. Tapi aku tetap menyayangi Ayah, mendambakannya, mendoakannya.

Singkat cerita sejak aku lahir keperluan hidup kami meningkat dan bahkan Mama sampai menjual tanah yang kami miliki. Hingga saat aku berusia sekitar 2/3 tahunan Mama menemukan seorang pria yang mungkin bisa menjadi imam dan menggantikan posisi Ayah. Kami memanggilnya “papa”. Meskipun mungkin takkan bisa menggantikan posisinya dihati Mama, Mama memiliki 3 anak dari Papa.

Nasib tidak sejalan dengan harapan, kami mengalami kesusahan secara finansial, kami kekurangan hingga Mama harus bekerja keras karena hal ini. Ketika SD, aku diminta Mama untuk berjualan es atau minuman beku di lapangan sekitar rumah karena di sana banyak orang berolahraga di sore hari. Mama membuka warung makanan dirumah, jus buah, es campur, batagor, gorengan dan sebagainya.

Mama benar-benar bekerja keras, sempat juga kami berjualan kecil-kecilan di alun-alun kota kami, sekedar berjualan gorengan dan kopi seduh. Berjualan di tempat seperti alun-alun kota ini bukan tidak mungkin jika ada saatnya penertiban oleh Satpol PP, untungnya Mama seseorang yang supel dan ketika tibum (ketertiban umum) berlangsung Mama justru malah ngajak Satpol PP itu mengobrol ngalor ngidul, hingga sudah terbiasa dengan ini. Lucu memang..

….berlanjut ke artikel selanjutnya, baca terus cerita lengkapnya!