Nenekku Pahlawanku

Ditulis oleh @Nathanazrielshihab

Tanggapan kamu (1) Nenekku Pahlawanku

Kala itu di luar hujan turun dengan lebatnya ditemani retak petir yang menyala-nyala. Saat itu aku masih kecil duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3.

Aku si anak kecil yang dikenal suka menangis sampai mengganggu orang-orang di sekitar. Tangisanku bukan tak berdasar. Aku sudah lama memiliki penyakit yang cukup mematikan. Ibuku sedikit frustasi dengan kondisiku yang selalu tiba tiba demam dan pingsan. Setiap seminggu tiga kali aku haru check-up ke rumah sakit dan hidupku bergantung pada obat-obatan yang memiliki banyak jenisnya mulai dari sirup, tablet, hingga kapsul sudah menjadi hal yang biasa bagiku.

Ketika sakit itu kembali menyerangku, ibuku menangis dengan keras tidak tahu harus berbuat apa karena segala macam cara telah dicobanya mulai dari membawaku ke dokter, memberiku makan secara teratur hingga memijit badanku yang sesekali terasa pegal dan kepala yang pusing.

Ketika ibuku menangis, Nenek datang menggantikan Ibu menjaga saat itu. Nenek membawa segelas air putih yang telah diberi doa lalu nenek membaca beberapa surah Al-Qur'an karena kami Islam. Namun tak berselang setelah nenek selesai membaca doa sakitku mulai hilang dan panas yang tak turun turun itu mulai pudar.

Aku sangat bersyukur sampai hari ini dan aku ingat ketika aku selalu di-bully oleh teman-teman sekolah dan beberapa guru yang suka membeda-bedakan perlakuan pada muridnya. Aku menangis karena ditertawakan tak bisa menjawab pertanyaan dan buku tugasku tertinggal di rumah.

Aku disuruh bernyanyi sambil melakukan gerakan yang menyerupai bebek yang sedang berjalan sambil mengitari isi kelas. Karena merasa malu ditertawakan teman-teman, aku menangis. Namun guruku malah memarahiku.

Sepulang sekolah dengan penuh ketakutan namun memberanikan diri mengadu pada ibuku. Namun Ibu hanya bilang kalo aku harus lebih teliti lagi supaya tidak melakukan kesalahan.

Keesokan harinya lagi aku mendapat nilai kurang baik padahal semua jawabannya benar. Akupun bilang lagi ke Ibu namun ibu bilang aku harus berani bertanya pada guru apa yang salah.

Di lain hari aku mendapat nilai yang sama dan jawabanku juga sudah benar lalu aku bertanya sesuai perkataan ibu kalau aku harus berani bertanya. "Bu Guru, aku menjawab benar semuanya kenapa aku dapat nilai kecil?", tanyaku. Beliau menjawab, kesalahanku adalah telat mengumpulkan dan tulisanku kurang rapi ditambah aku selalu lambat dalam menulis.

Sepulang sekolah Ibu tidak ada di rumah hatiku serasa hancur kala itu dan selalu menyalahkan diriku dengan memukul kepala juga tanganku yang menulis dengan lamban.

Nenek melihat apa yang sedang kulakukan lalu nenek mendekat ke arahku sambil bertanya, "kenapa kamu pukul kepala? Jangan dipukul nanti malah sakit," ucap Nenek saat itu.

Seketika itu juga aku menangis, "Nek,kata guru nilaiku jelek karena aku lambat saat menulis dan mengumpulkan," terangku sambil menangis tersedu-sedu. "Mana coba Nenek lihat bukunya," ucap Nenek.

Aku pun mengeluarkan buku dalam ransel merah lalu memberikannya ke tangan nenek. Nenekpun membuka lembaran buku tugas milikku. "Kenapa tidak ada tanda benar dan salahnya hanya ada nilai saja?" ucap Nenek. Aku tetap menangis. "Besok Nenek yang akan mengantar kamu ke sekolah," ucap Nenek lagi.

Malam harinya, Nenek berkata pada ibuku kalo buku tugasku ada yang aneh dari cara memberikan penilaian. Ibuku memeriksa buku ketika aku hendak akan tidur.

Sebelum aku tidur, Ibu bertanya, "apakah kamu sudah bertanya apa yang salah dengan tugasmu?".

Aku menjawab, “karena aku lambat saat menulis dan mengumpulkan," sembari menatap wajah Ibu yang serius.

Rabu pagi Nenek dan ibuku mengantarku ke sekolah. Namun ternyata Nenek belum pulang. Saat pelajaran sedang dimulai, Nenek malah memperhatikan caraku belajar dan cara guruku mengajar sampai akhirnya Nenek menemui guruku ketika aku dihukum karena tak bisa membaca dengan cepat.

Nenek marah pada guruku, kata-katanya yang masih kuingat sampai hari ini adalah, "guru itu harusnya mengajari murid dengan benar, bukan memberikan hukuman karena dia lambat," ucap nenekku sampai akhirnya menjadi masalah yang cukup ramai.

Karena Nenek mengadukan guruku pada kepala sekolah, Dan berkat kejadian itu, Nenek selalu mengantarku ke sekolah. Juga guru bersikap baik padaku hingga aku bisa mendapatkan nilai yang bagus.

Bagikan tanggapanmu

Masuk untuk meninggalkan komentar
a tiger of madura

I Think that it's a good story... Perfect...

2 tahun yang lalu