Mereka Bilang Aku Single Mom, Aku Bilang Aku Independent Mom

Aku pikir, mempunyai anak mengharuskan aku untuk membuang mimpi. Ternyata, aku tetap bisa memiliki keduanya!

Mereka Bilang Aku Single Mom, Aku Bilang Aku Independent Mom

Dulu, pagiku selalu dimulai dengan membantu ibu di dapur, lalu bersiap menuju sekolah. Sekarang, pagiku dimulai dengan memandikan anakku, mengantarnya ke sekolah, dan lanjut ke kampus. Ya, aku adalah orang tua tunggal. Tapi itu gak akan menghentikan aku dari mencoba memenuhi kebutuhan anakku.

Aku punya anak saat aku berumur 17 tahun, dan ini sama sekali tidak direncanakan. Aku pertama kali mengenal ayahnya anakku dari telepon salah sambung, kami pun jadi dekat, dan setelah kami pacaran untuk beberapa saat, aku pun hamil. Saat aku minta pertanggungjawaban pacarku, dia bilang dia gak siap untuk bertanggung jawab dan menjadi seorang ayah.

Aku pun memutuskan untuk membesarkan anak kami sendirian. Awalnya memang susah. Aku harus berhenti sekolah dan pindah sementara ke kota yang lebih kecil karena orang tuaku merasa sebaiknya teman-teman dan tetanggaku gak perlu tahu dulu tentang kehamilanku. Setelah anakku lahir, aku pulang ke Jakarta, tapi aku merasa udah gak mungkin lagi lanjut sekolah, jadi aku diam di rumah saja dan fokus membesarkan anak.

Sebulan, dua bulan, waktu berjalan, dan bayiku tumbuh. Aku merasa, aku harus berbuat sesuatu untuk dia, untuk aku juga. Aku mau berubah. Jadi aku berhenti ngedengerin orang-orang itu dan mulai mendengarkan isi hati aku sendiri; anakku bukan alasan untuk gak menggapai impianku. Mulailah aku cari kerjaan, dan kerja kerasku terbayar. Siang hari aku sekolah, malam hari aku bekerja. Kadang aku kewalahan, tapi walau susah, aku tau aku bisa! Dan seperti aku yang berubah, orang tuaku juga. Mereka sekarang mau bantu aku menjaga bayiku dan juga menyemangatiku untuk terus sekolah.

Hari ini, aku 24 tahun. Anakku udah mulai sekolah di SD. Aku belajar banyak banget hal, aku belajar kalau kadang apa yang terjadi gak sesuai dengan rencana, tapi bukan berarti kita harus berhenti bermimpi. Juga, orang-orang masih akan ngomongin aku, tapi itu gak akan menghentikan aku lagi; sebagai seorang ibu, sebagai seorang individu. Mereka boleh panggil aku single mother, tapi buat aku, aku itu independent mother.