Ayo Kejar Aku

Oleh @Akiiiii

Ayo Kejar Aku

Pelajaran di sekolah yang kubenci adalah Penjaskes. Aku dan olahraga itu bukan perpaduan yang bagus. Ketika temanku mengoperkan bola voli pun bukannya aku menerima dan mengoperkannya balik, aku malah merem dan alhasil bola itu mendarat mulus di kepalaku.

Kalau mau ke kantin, harus melewati lapangan dan aku selalu was-was karena bukan sekali dua kali kepalaku jadi korban bola kakak kelas yang sedang bermain. Teman dekatku bilang aku itu takut dengan bola, aku juga jadi berpikir seperti itu, "Mungkinkah aku trauma?"

Saat aku kebagian passing bola Voli, bola yang kupukul tidak pernah melambung tinggi. Saat aku bermain ganco/engklek dengan teman sekelasku juga aku tidak pernah menang.

Ketika bermain lempar lembing dan tolak peluru juga lembing dan peluru yang kulempar jaraknya pendek. Apalagi bulu tangkis dan tenis meja, uhh, jangan tanya. Aku benar-benar payah!

"Kamu tidak perlu memaksakan diri jika itu memang bukan keahlianmu, mungkin bakatmu di bidang lain." Apa kepala teman dekatku ini terbentur sampai bisa bijak seperti itu? Aku berpikiran sama sampai aku praktik lari jarak pendek. Aku di posisi pertama! Aku menaikan tersenyum lebar, ahh, AKU BAHAGIA SEKALI.

Kebahagiaanku tidak sampai di situ, pemegang posisi pertama diadu lagi sampai menemukan siapa yang paling cepat. Aku berhasil berada di posisi pertama hingga dipilih mewakilkan sekolahku lomba atletik tingkat Kecamatan. AKU BENAR BENAR BAHAGIA.

Aku sedikit sadar kalau aku itu pendek, tapi lariku gesit! Aku juga pandai dalam bermain kejar-mengejar. Malah aku pernah juara 2 balap karung.

Dan setiap pulang sekolah, kami yang terpilih —termasuk pemain sepak bola, voli, bulu tangkis dan sebagainya, diwajibkan mengikuti latihan.

Ketika lomba dimulai aku benar benar berdebar tapi aku hanya akan menuruti apa kata pelatihku: aku akan fokus ke depan tanpa perlu menengok kanan-kiri dan lewati garis finish. Babak pertama aku berada di urutan pertama hingga aku berhasil masuk babak terakhir. Sayangnya di babak penentuan aku hanya meraih posisi kelima. Aku sadar kalo lawanku juga kuat-kuat.

Teman-teman menghiburku dan aku juga bersyukur dapat Juara Harapan II. Itu lumayan bagus karena aku bisa membanggakan sekolahku dan akhirnya aku menemukan olahraga yang kusukai.

Mungkin olahraga yang ku bisa cuma lari —dan renang gaya batu. Aku tidak begitu peduli dengan betisku yang sebesar Talas Bogor. Selama aku menyukainya, aku tidak pernah berpikir ini hal yang memalukan.