Anak Kos Belia

Oleh @Mayahari

Tanggapan kamu (2) Anak Kos Belia

Titik balikku menjadi mandiri dimulai ketika aku diterima di SMP di luar kota yang memiliki jarak 1,5 jam dari rumahku. Kedua orangtuaku memutuskan untuk membujukku tinggal di kos.

Pertimbangan tersebut didasarkan agar aku tidak terlalu kelelahan. Aku sempat bimbang dan berpikir untuk tidak jadi masuk ke SMP tersebut. Tapi melihat keluargaku bahagia karena aku berhasil diterima di sekolah favorit tersebut, membuatku tersadar bahwa aku hidup untuk membahagiakan dan membuat bangga keluarga. Akhirnya aku meng-iya-kan untuk tinggal di kos selama menempuh pendidikan di sana.

Tiga hari setelah pengumuman penerimaan SMP, aku bersama ibu pergi berputar-putar di kompleks sekitar sekolah untuk mencari kos khusus perempuan. Akhirnya kami menemukan sebuah rumah kos berwarna hijau muda, terlihat sejuk dan teduh; rumah kos yang damai.

Kos tersebut terdiri dari delapan kamar tidur, dilengkapi dengan tiga kamar mandi, dapur, ruang tamu, dan lain sebagainya seperti yang ada pada rumah pada umumnya. Kata ibu-ibu pengelola kos, dari delapan kamar tersebut, sudah ada dua siswa baru, itu tandanya tidak hanya aku saja junior di kos tersebut. Jujur, aku juga khawatir mengenai senioritas. Setidaknya aku memiliki teman yang seumuran.

Aku dan kedua orang tuaku pergi bersama-sama ke toserba untuk membeli kebutuhan untuk kamar kosku nanti, seperti ember, setrika, magic jar, dan lain sebagainya.

Pada hari Minggu, aku diantar oleh ayah, ibu, kakak, dan adikku ke Kos Damai. Kami berlima bergotong-royong untuk mengangkat barang-barang dari mobil, kemudian menatanya di dalam kamarku. Ketika semua barang-barang sudah tertata rapi di kamar, mereka berempat pamit pulang. Sungguh sedih rasanya saat melambaikan tangan salam perpisahan.

Malam itu aku merasa lapar. Pagi hari sebelum aku diantar ke kos, Ibu hanya membawakanku lauk pauk, itu tandanya aku harus menanak nasi terlebih dahulu.

Jujur, sebelumnya aku belum pernah menanak nasi, karena di rumah selalu ibu yang melakukannya. Kemudian aku teringat perkataan ibu tentang rumus menanak nasi yang benar. Satu gelas takaran beras dimasak dengan air sebanyak satu setengah ruas jari telunjuk. Dan benar saja, saat nasi matang, nasi tersebut memiliki tekstur yang pas. Tidak keras maupun lembek.

Satu minggu pertama menjadi anak kos, aku merasa homesick. Ingin rasanya tinggal di rumah saja meskipun tiap hari harus tersita 3 jam di perjalanan. Aku merindukan masakan ibu, dibangunkan oleh ibu, diajak ngobrol dan bermain dengan kakak dan adik, mendengarkan nasehat ayah, dan hal-hal yang menentramkan hati lainnya.

Semenjak menjadi anak kos, aku belajar hampir semua pekerjaan rumah tangga yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Ketika di rumah, biasanya aku hanya menyapu saja. Namun semenjak menjadi anak kos yang masih belia, melakukan semua hal tersebut sungguh amat sangat berat. Terutama cuci baju. Ingin rasanya laundry saja, daripada repot-repot merendam baju, mengucek, memeras, menjemur, dan menyetrika.

Kemudian pikiranku untuk laundry sirna ketika salah satu penghuni kos menyarankanku untuk melakukannya sendiri. Uang yang digunakan untuk laundry bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berguna atau menyenangkan, seperti jalan-jalan bersama teman-teman, membeli buku, atau menabungnya saja. Kalau dipikir-pikir benar juga.

Ada godaan besar yang sempat menggangguku, yaitu keluar malam bersama teman-teman sekolah. Pernah suatu waktu aku pergi bermain dengan dua teman sekelasku. Kami pergi ke mal untuk sekadar bermain dan makan. Aku tiba di kos pukul 10. Padahal sebelumnya aku tidak pernah keluar malam karena ada aturan jam malam ayah yang hanya membolehkanku keluar rumah hingga pukul 8.

Kejadian pulang malam terjadi hampir lima kali, hingga akhirnya membuat mbak kosku angkat bicara. Sebut saja Kak Mawar. Kami awalnya mengobrol biasa, hingga akhirnya Kak Mawar mengatakan bahwa keluar malam yang kulakukan itu tidak baik.

Awalnya aku tidak terima ketika Kak Mawar menasehatiku. Tapi ketika aku mulai merenung di kamar, aku menyadari memang keluar malam yang kulakukan itu tidak baik, kurang bermanfaat, dan bisa saja menjerumuskanku kepada hal yang tidak semestinya. Mengingat bahwa tidak ada yang mengawasi dan banyak orang jahat di luar sana.

Kemudian aku teringat keluargaku, teringat akan janjiku akan belajar sungguh-sungguh dan menjadi anak yang baik dan tidak menyusahkan orang lain. Usai peristiwa itu, aku belajar untuk menolak ajakan bermain teman, karena hal itu tidak sesuai dengan prinsipku yang sudah diterima di sekolah impianku. Lebih baik waktu yang senggang kugunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang meskipun memiliki deadline pengumpulan yang masih lama, atau kugunakan untuk belajar tentang materi-materi pelajaran yang belum kupahami benar.

Itulah segelintir kisahku kala itu, saat masih usia remaja dengan segudang godaan, harus mampu membatasi diri dan mandiri dengan tidak merepotkan orang lain. Dan yang terlebih penting, harus tanggungjawab atas segala dilakukan, karena sudah berjanji kepada Ayah dan Ibu untuk menjadi anak yang baik dan berprestasi.

Bagikan tanggapanmu

Masuk untuk meninggalkan komentar

Tanggapan kamu

kia_putry_kiana

baguss.. intinya anak kost an gak harus bebas sesuka hati..

1 tahun, 2 bulan yang lalu

Balasan Terbaru

Kak Sekar - Admin

Yup! Kita harus mampu untuk menjaga dan mengurus diri kita sendiri juga, ya :)

1 tahun, 2 bulan yang lalu