Aku Takut Menjadi Dewasa

Oleh @bekti

Tanggapan kamu (25) Aku Takut Menjadi Dewasa

Bagi sebagian remaja, masa pubertas memang bukanlah masa yang mudah untuk dihadapi maupun dilalui. Setiap orang pasti memiliki ketakutan tersendiri saat menginjakkan langkah pertama di tiap fase hidupnya.

Tak terkecuali aku. Semula aku takut bahkan sangat takut menghadapi pubertas. Aku was-was ketika satu persatu temanku menceritakan tamu pertamanya. Aku juga risih ketika dokter selalu bertanya apakah sudah mendapat datang bulan tiap kontrol ke sana.

Ketika menjawab belum, mereka diam sejenak lalu tersenyum terhibur. Padahal aku sendiri tidak menanti-nantikan hal itu. Malah aku takut. Aku takut mendapatkannya, menghadapinya.

Aku yang takut darah harus melihatnya tiap bulan. Belum lagi sakit yang dirasa. Tapi ada yang lebih aku takutkan dari itu semua. Aku takut dewasa. Aku takut masa-masa konyol dan kekanak-kanakkanku kadaluarsa.

Aku takut harus menjadi wanita ideal yang diidam-idamkan orang-orang. Yang anggun, lemah lembut, pemalu dan cenderung pendiam. Sedangkan aku tipe orang pecicilan, humoris, spontan yang lebih suka tertawa terbahak-bahak bersama kawan daripada mengurung diri di rumah.

Aku takut menjadi dewasa. Aku takut tidak ada lagi masa-masa manja dan berleha-leha. Dewasa adalah tanggung jawab. Itulah yang selalu ditekankan ibuku. Ibu selalu berkata bahwa ketika mengalami pubertas aku bukan anak-anak. Aku harus berpikir dan bersikap seperti orang dewasa.

Aku gemetar terduduk lunglai di lantai kamar mandi ketika mendapat menstruasi pertama. Aku takut melihat cairan merah berbau besi itu. Aku takut perlakuan orang-orang sekitar berubah. Begitu juga dengan kasihnya

Namun, lambat laun aku tersadar bahwa menjadi dewasa ternyata asyik juga. Ada tantangan tersendiri. Terutama ketika kita mulai merancang masa depan. Masa-masa yang dipenuhi mimpi-mimpi dan ambisi. Kita akan mulai menyadari masa depan.

Perubahan berarti kebaikan diri. Dan itu bersifat alami. Krisis identitas yang awalnya dialami anggap saja sebagai proses pengenalan diri sendiri. Menjadi dewasa bukan berarti harus kehilangan jati diri, tapi tentu dengan perubahan ke arah lebih baik.

Sampai saat ini aku masih suka tertawa terbahak-bahak bahkan terpingkal-pingkal sampai perut kesakitan. Aku juga tetap humoris dengan tetap sering bercanda bersama teman. Tapi aku juga tak lupa pada masa depan juga yang harus kunanti dengan penuh tanggung jawab.

Kalo kamu suka membaca cerita ini dan ingin ikutan berbagi ceritamu sendiri (dan dapet kesempatan buat memenangkan pulsa sebesar Rp. 50.000,-!), cek kompetisi menulis kami, ya.

Bagikan tanggapanmu

Masuk untuk meninggalkan komentar

Tanggapan kamu

Yura

Ini juga sama kek aku, tapi dari sd aku udah bertekat aku akan nikamti masa remajaku nanti tapi...

Baca selengkapnya 2 hari yang lalu

Balasan Terbaru

Kak Sekar - Admin

Halo Yura! Wahh senang sekali membaca kisah kamu! Terima kasih ya sudah berbagi cerita dengan...

2 jam, 35 menit yang lalu
Fa

Yaa,,cerita ini sama banget sama pengalaman pertamaku dapet haid,aku gemetar melihat darah,😅 udah...

2 bulan yang lalu

Balasan Terbaru

Kak Sekar - Admin

Halo, Fa! Hihihi, wajar kok kalau kaget. Tapi sekarang sudah gak kaget, kan? Yang paling penting,...

2 bulan yang lalu
Tampilkan komentar